Senin, 02 Januari 2017

GLAUKOMA



Pengertian Glaukoma

Glaukoma adalah jenis gangguan penglihatan yang ditandai dengan terjadinya kerusakan pada saraf optik yang biasanya diakibatkan oleh adanya tekanan di dalam mata. Gejala-gejala glaukoma dapat berupa:

1.      Nyeri pada mata.
2.      Sakit kepala.
3.      Melihat bayangan lingkaran di sekeliling cahaya.
4.      Mata memerah.
5.      Mual atau muntah.
6.      Mata berkabut (khususnya pada bayi).
7.      Penglihatan yang makin menyempit hingga pada akhirnya tidak dapat melihat obyek sama sekali.

Menurut Badan Kesehatan Dunia atau WHO, glaukoma merupakan penyebab kebutaan kedua terbesar di seluruh dunia setelah katarak. Di Indonesia sendiri, berdasarkan data yang didapat oleh Kementrian Kesehatan (kemenkes), prevalensi penderita glaukoma pada tahun 2007 mencapai 4,6 per 1000 penduduk.

Gejala Glaukoma

Gejala glaukoma bisa terjadi secara cepat (akut) atau bisa juga secara perlahan-lahan (kronis).

Pada kasus glaukoma sudut tertutup, sering kali gejala berkembang dengan cepat atau akut. Orang yang terkena kondisi ini akan mengalami gejala nyeri dan merah pada mata, penglihatan menjadi buram, sakit kepala, mual dan muntah, seperti melihat lingkaran cahaya di sekitar lampu. Gejala glaukoma sudut tertutup akut bisa muncul-hilang selama satu atau dua jam. Meskipun tidak konstan, namun kondisi mata makin rusak tiap kali gejala muncul.

Berbeda dengan glaukoma sudut tertutup, gejala pada kasus-kasus glaukoma sudut terbuka sering kali berkembang secara perlahan-lahan atau kronis. Penderita kondisi ini hampir tidak menyadari kerusakan yang terjadi pada mata mereka. Ciri-ciri utama glaukoma sudut terbuka kronis adalah menurunnya penglihatan tepi pada kedua mata secara perlahan-lahan, sebelum akhirnya menjadi sangat sempit atau tunnel vision.
 
Dua jenis glaukoma yang lainnya adalah glaukoma sekunder dan kongenital. Pada kasus glaukoma sekunder, gejala glaukoma akan disertai oleh gejala dari kondisi yang mendasari. Contohnya adalah glaukoma yang disebabkan oleh uveitis. Disamping penglihatan menjadi buram atau seperti melihat lingkaran cahaya di sekitar lampu, penderita juga akan merasakan nyeri pada mata dan kepalanya yang juga merupakan gejala dari uveitis.

Sedangkan pada kasus glaukoma kongenital atau bawaan, gejala yang bisa muncul pada anak-anak di antaranya: 

1.      Mata tampak berair dan berkabut.
2.      Mata menjadi sensitif terhadap cahaya.
3.      Mata terlihat membesar (akibat tekanan yang terjadi di dalam mata).
4.      Mata terlihat juling.

Penyebab Glaukoma

Glaukoma terjadi ketika tekanan di dalam mata meningkat akibat cairan mata tidak bisa mengalir dengan baik. Tekanan yang meningkat inilah yang kemudian merusak jaringan saraf pelapis bagian belakang mata yang peka terhadap cahaya (serabut saraf retina) dan saraf yang mengubungkan mata dengan otak (saraf optik).

Cairan mata atau (aqueous humour) merupakan zat penting yang terdapat di dalam mata kita. Tiap hari zat ini diproduksi dan dialirkan secara konstan dari mata ke aliran darah melalui saluran drainase yang disebut trabecular meshwork. Aqueous humour juga menghasilkan tekanan guna menjaga bentuk mata kita. Pada mata orang sehat, aqueous humour mengalir dengan lancar dan tekanan tetap berada pada batas yang aman. Sebaliknya, pada penderita glaukoma, aliran aqueous humour terganggu dan tekanan di dalam mata meningkat.

Salah satu penyebab terhambatnya aliran aqueous humour adalah trabecular meshwork yang terblokir. Hingga kini, faktor yang mendasari penyempitan saluran tersebut masih belum diketahui.
Berikut ini sejumlah faktor yang diduga bisa meningkatkan risiko seseorang terkena glaukoma, di antaranya:

1.      Berusia di atas 60 tahun.
2.      Pernah mengalami cedera pada mata atau menjalani operasi mata.
3.      Pernah terdiagnosis mengalami tekanan mata tinggi atau hipertensi okular.
4.      Menderita penyakit mata yang lain (misalnya rabun jauh).
5.      Memiliki anggota keluarga yang juga menderita glaucoma.
6.      Menggunakan obat kortikosteroid, terutama tetes mata, pada jangka waktu lama.
7.      Menderita penyakit anemia sel sabit, diabetes, hipertensi, atau penyakit jantung.
8.      Mengalami defisiensi estrogen di usia dini (pada wanita).

Diagnosis Glaukoma

Dalam mendiagnosis glaukoma, selain menanyakan gejala yang pasien rasakan, dokter mata juga akan membutuhkan keterangan mengenai riwayat kesehatan mereka. Dan untuk menguatkan diagnosis, dokter akan melakukan sejumlah tes, di antaranya:

1.      Tes tonometry.

yaitu pemeriksaan untuk mengukur tekanan di dalam mata. Sebelum tes ini dilakukan, mata pasien akan ditetesi obat bius . Tes tonometry dilakukan dengan bantuan sebuah alat yang dinamakan  tonometer. Alat ini dilengkapi dengan lampu biru di ujungnya. Dokter akan menempelkan tonometer pada mata untuk mengukur tekanan intraokular.

2.      Tes perimetri atau tes lapang pandang.

Pemeriksaan ini bertujuan untuk memeriksa semua area lapan pandang pasien, termasuk lapang pandang perifer (samping).  Saat tes perimetri dilakukan, pasien akan disuruh melihat rangkaian titik-titik cahaya. Titik-titik cahaya ini sebagian akan terlihat di arealapang pandang periferal (sekitar sisi bola mata) apabila mata pasien sehat. Sebaliknya, jika pasien mengalami glaukoma, titik cahaya tersebut tidak akan tampak dalam lapang pandang periferal.

3.      Tes gonioscopy.

Pemeriksaan ini bertujuan memeriksa sudut di antara iris dan kornea yang merupakan tempat saluran pembuangan cairan mata. Dokter perlu mengetahui apakah sudut tersebut terbuka atau tertutup.

4.      Tes ophthalmoscopy.

yaitu pemeriksaan untuk melihat gangguan di area belakang mata. Dalam pemeriksaan ini, mata pasien akan ditetesi obat khusus sehingga pupil mereka membesar. Setelah itu dokter akan meneliti mata pasien dengan sebuah alat. Pemeriksaan yang dilakukan dapat berupa pemeriksaan langsung, pemeriksaan tidak langsung, dan pemeriksaan menggunakan slit-lamp.

5.      Tes pachymetry.

yaitu pemeriksaan untuk mengukur ketebalan kornea.

Pengobatan Glaukoma

Glaukoma harus didiagnosis dan diobati sedini mungkin. Jika kondisi ini diabaikan, maka penyakit ini akan terus berkembang dan penderitanya bisa mengalami kebutaan permanen.

Kerusakan mata yang ditimbulkan oleh glaukoma memang tidak dapat diobati secara total (penglihatan tidak bisa sepenuhnya normal kembali). Namun tujuan pengobatan kondisi ini adalah untuk mengurangi tekanan intraokular pada mata dan mencegah meluasnya kerusakan pada mata.
Glaukoma bisa ditangani dengan obat tetes mata, obat-obatan yang diminum, pengobatan laser, atau prosedur operasi.

Umumnya obat tetes mata sering menjadi bentuk penanganan pertama untuk glaukoma yang disarankan oleh dokter. Obat tetes ini berguna melancarkan pembuangan cairan mata (aqueous humour) atau mengurangi produksinya.

Beberapa jenis obat tetes mata untuk glaukoma adalah: 

1.      Alpa-adrenergic agonists.

Obat ini berfungsi meningkatkan aliran aqueous humour dan mengurangi produksinya. Efek samping yang mungkin saja terjadi setelah menggunakan alpha-adrenergic agonists adalah pembengkakan, gatal, dan merah pada mata, badan terasa lelah, mulut kering, hipertensi, dan detak jantung tidak teratur. Beberapa contoh obat ini adalah brimonidine dan apraclonidine.

2.      Beta-blockers.

Obat ini bekerja dengan cara memperlambat produksi aqueous humour guna mengurangi tekanan intraokular pada mata. Efek samping yang mungkin terjadi setelah mengonsumsi beta-blockers adalah mata terasa gatal, tersengat, atau panas. Mata juga bisa menjadi kering. Beberapa contoh obat ini adalah timolol, levobunolol hydrochloride, dan betaxolol hydrochloride.

3.      Prostagladin analogue.

Obat ini mampu memperlancar pengaliran aqueous humour sehingga tekanan di dalam mata berkurang. Efek samping yang mungkin terjadi setelah mengonsumsi prostaglandin analogue adalah sakit, bengkak, dan merah pada mata, mata menjadi sensitif terhadap cahaya, mata menjadi kering, menggelapnya warna mata, pembuluh darah pada bagian putih mata menjadi bengkak, serta sakit kepala. Beberapa contoh obat ini adalah travoprost, bimatoprost, latanoprost, dan tafluprost.

4.      Carbonic agents atau miotic.

Obat ini bekerja dengan cara meningkatkan pengaliran aqueous humour. Efek samping yang mungkin terjadi setelah mengonsumsi cholinergic agents atau miotic adalah penglihatan menjadi buram dan pupil mengecil. Salah satu contoh obat ini adalah pilocarpine.

5.      Sympathomimetics.

Obat ini mampu memperlancar pengaliran aqueous humour sekaligus mengurangi produksinya. Efek samping yang mungkin terjadi setelah mengonsumsi sympathomimetics adalah nyeri dan merah pada mata. Salah satu contoh obat ini adalah brimonidine tartrate.

Obat tetes mata tidak boleh digunakan secara sembarangan tanpa resep atau petunjuk penggunaannya dari dokter karena dikhawatirkan bisa berbahaya. Contohnya adalah reaksi obat beta-blockers yang malah memperburuk kondisi orang yang memiliki penyakit jantung dan asma.

Untuk melengkapi kinerja obat tetes atau jika obat tetes terbukti kurang efektif, dokter kemungkinan akan meresepkan obat glaukoma yang diminum. Salah satu contohnya adalah carbonic anhydrase inhibitor. Efek samping yang mungkin terjadi setelah mengonsumsi obat ini adalah:

1.      Sakit perut.
2.      Jari tangan atau kaki kesemutan
3.      Sering buang air kecil.
4.      Batu ginjal.
5.      Depresi.

Pada kasus glaukoma sudut tertutup, terapi laser ditujukan untuk membuka penyumbatan aqueous humour. Sedangkan pada kasus glaukoma sudut tertutup terapi laser ditujukan untuk memperlancar pengaliran cairan tersebut. Berdasarkan tekniknya, terapi laser dibagi menjadi tiga, yaitu:

1.      Trabeculoplasty.

Sumbatan di area trabecular meshwork dibuka menggunakan sinar laser.

2.      Iridotomy.

Aliran aqueous humour diperlancar dengan cara membuat lubang kecil pada iris menggunakan sinar laser.

3.      Cyclodiode laser treatment.

Produksi aqueous humour dibatasi dengan cara merusak sebagian kecil jaringan penghasil aqueous humour.

Berikut ini adalah jenis-jenis operasi glaukoma jika diurutkan berdasarkan penerapannya secara umum:

1.      Trabeculectomy.

Ini merupakan jenis operasi glaukoma yang paling umum. Trabeculectomy bertujuan memperlancar aliran aqueous humour dengan cara membuang sebagian dari trabecular meshwork.

2.      Aqueos shunt implant.

Ini merupakan prosedur operasi yang bertujuan memperlancar aliran aqueous humour dengan cara memasang sebuah alat kecil menyerupai selang pada mata.

3.      Viscocanolostomy.

Melalui operasi ini dokter akan membuang sebagian lapisan luar berwarna putih yang menutupi bola mata (sclera) untuk meningkatkan pembuangan aqueous humour.

4.      Sclerectomy dalam.

Operasi ini dilakukan guna memperlebar trabecular meshwork melalui pemasangan alat untuk melebarkan trabecular meshwork.

GIGANTISME



Pengertian Gigantisme

Gigantisme adalah berlebihnya produksi hormon pertumbuhan pada anak-anak yang memberi dampak kepada ukuran tinggi dan berat badannya. Kondisi ini tergolong langka dan terjadi sebelum lempeng epifisis atau lempeng pertumbuhan di dalam tulang menutup. Selama masa pertumbuhan, anak-anak yang terkena gigantisme dapat memiliki ukuran tinggi dan berat badan yang terlihat di atas rata-rata. Hal ini jugalah yang menjadi penyebab gigantisme tidak mudah dikenali gejalanya dan awalnya dianggap sebagai fase pertumbuhan anak yang wajar.

Gigantisme berbeda dengan kondisi akromegali pada orang dewasa karena produksi hormon pertumbuhan yang berlebih terjadi ketika lempeng epifisis menutup.

Penyebab Gigantisme

Penyebab gigantisme yang paling sering ditemui adalah tumor pada kelenjar hipofisis atau tumor kelenjar pituitari yang terletak pada bagian bawah otak. Kelenjar ini berperan pada perkembangan seksual, pengendalian suhu tubuh, produksi urine serta metabolisme pertumbuhan pada wajah, tangan, dan kaki. Tumbuhnya tumor pada kelenjar hipofisis menyebabkan kelenjar ini memproduksi hormon pertumbuhan secara berlebihan. Penyebab gigantisme lainnya adalah:

1.      Carney complex, tumbuhnya tumor jinak pada kelenjar endokrin, jaringan ikat serta munculnya bintik-bintik yang lebih gelap pada kulit. Kondisi ini merupakan penyakit yang diturunkan.

2.      Multiple endocrine neoplasia type 1, juga dikenal sebagai MEN 1, yaitu tumbuhnya tumor pada kelenjar hipofisis, kelenjar paratiroid, dan pankreas. Penyakit ini merupakan kelainan yang diturunkan.

3.      Neurofibromatosis, tumbuhnya tumor pada sistem saraf dan merupakan kelainan turunan.

4.      Sindrom McCune-Albright, pertumbuhan tidak wajar pada jaringan tulang, kelainan kelenjar, dan munculnya bercak cokelat muda pada kulit.

Gejala Gigantisme

Gigantisme memiliki gejala-gejala fisik yang bisa dikenali pada anak secara langsung. Salah satunya adalah ukuran badan anak yang lebih tinggi dari anak lain seumurannya. Beberapa bagian tubuh anak dapat memiliki perbedaan proporsi dengan bagian tubuh lain pada dirinya sendiri, seperti pertumbuhan tangan dan kaki yang disertai penebalan pada jari-jari. Gejala lainnya adalah rahang dan dahi yang menonjol, dan hidung datar. Selain itu, penderita juga bisa mengalami pembesaran pada kepala, lidah, atau bibirnya.

Gejala yang dialami tergantung pada seberapa besar ukuran tumor pada kelenjar hipofisis karena dapat menekan syaraf otak. Penderita dapat mengalami sakit kepala, kelelahan, mual sebagai akibat tumor, gangguan penglihatan, kehilangan pendengaran, periode menstruasi yang tidak normal, serta keterlambatan masa pubertas pada anak. 

Diagnosis Gigantisme

Gigantisme dapat didiagnosis melalui rangkaian pemeriksaan di laboratorium. Dokter akan melakukan tes untuk mencari tahu level hormon pertumbuhan serta faktor pertumbuhan seperti insulin-1 (IGF-1). Tes lain yang mungkin dilakukan adalah Tes Toleransi Glukosa Oral (TTGO) atau pemeriksaan darah untuk mengetahui apakah hormon pertumbuhan mengalami peningkatan produksi. 

Dokter akan memeriksa kadar glukosa dalam darah, sebelum dan setelah anak diberikan cairan glukosa khusus. Kadar glukosa yang rendah akan mengindikasikan kondisi hormon pertumbuhan yang normal sementara kadar glukosa yang sama menunjukkan adanya produksi hormon pertumbuhan yang berlebih. Untuk dapat memastikan diagnosis tumor kelenjar hipofisis, sebuah tes MRI juga mungkin dilakukan agar ukuran dan letak tumor didapatkan.

Pengobatan Gigantisme

Banyaknya hormon pertumbuhan penyebab gigantisme dapat ditangani dengan cara mengendalikan produksinya. Bagaimanapun juga, belum ada terapi pengobatan yang sukses mengontrol produksi hormon pertumbuhan secara stabil. Untuk tumor kelenjar pituitari, tindakan operasi transsphenoidal bisa dilakukan sebagai upaya pengobatan pertama.

Terapi sinar gamma atau gamma knife radiosurgery adalah metode pengobatan lain yang dilakukan untuk mengobati tumor di otak. Terapi ini akan memaparkan ratusan sinar radiasi kecil pada tumor. Walau lebih efektif serta dapat mengembalikan level hormon pertumbuhan menjadi normal, terapi ini dapat berisiko munculnya gangguan emosional pada anak-anak, obesitas, dan ketidakmampuan belajar. Terapi ini umumnya diambil sebagai alternatif akhir jika metode operasi standar mengalami kegagalan.

Pengobatan gigantisme juga menggunakan obat seperti octreotide untuk mencegah laju produksi hormon pertumbuhan. Obat dapat berbentuk cairan dan disuntikkan satu kali dalam sebulan. 

Obat-obatan agonis reseptor dopamin dapat diberikan dalam bentuk pil untuk mengecilkan ukuran tumor sebelum dilakukan prosedur operasi. Kedua jenis obat ini dapat digunakan bersamaan untuk mengurangi level hormon pertumbuhan pada penderita. Obat-obatan dapat digunakan untuk mengurangi gejala gigantisme pada anak jika prosedur operasi tidak berhasil atau menghadapi kasus tumor yang tumbuh kembali. 

Komplikasi Gigantisme

Gigantisme yang tidak ditangani atau tindakan pengobatan dengan prosedur operasi dapat menyebabkan menurunnya hormon kelenjar hipofisis lainnya sehingga penderita berisiko terhadap penyakit-penyakit tertentu, seperti berkurangnya sekresi hormon atau kegiatan fisiologis pada ovarium atau testis (hipogonadisme), retardasi pertumbuhan dan perkembangan mental pada anak dan dewasa sebagai akibat rendahnya aktivitas kelenjar tiroid (hipotiroidisme), insufisiensi adrenal, dan kasus langka diabetes insipidus.

Pencegahan Gigantisme

Pencegahan terhadap gigantisme tidak diketahui secara pasti sehingga mendeteksi gejala sedini mungkin merupakan upaya pencegahan timbulnya gejala berat dan komplikasi pada penderita.

Minggu, 01 Januari 2017

Gastroenteritis



Pengertian Gastroenteritis

Gastroenteritis adalah infeksi yang terjadi pada usus atau perut yang disebabkan oleh beberapa jenis virus. Kondisi ini juga dikenal dengan istilah flu perut, flu lambung, atau virus perut. Infeksi ini menyebabkan terjadinya mual, muntah, diare, kram perut, dan terkadang demam.

Gastroenteritis menyebar melalui kontak jarak dekat dengan orang yang sudah terinfeksi atau karena mengonsumsi makanan dan/atau minuman yang terkontaminasi. Infeksi ini mudah sekali menyebar di fasilitas umum yang tertutup, seperti di dalam ruang kelas, tempat perawatan anak, dan ruang perawatan umum.

Gastroenteritis jarang menyebabkan komplikasi pada orang yang kondisi tubuh secara keseluruhan sehat, dan penderita umumnya akan pulih sepenuhnya. Tapi, kondisi ini berpotensi fatal dan bahkan mematikan, jika terjadi pada bayi, orang tua, dan orang yang bermasalah dengan sistem kekebalan tubuhnya.

Gejala Gastroenteritis

Gejala akan muncul antara 1-3 hari setelah Anda terinfeksi. Tingkat keparahan gejala beragam, mulai dari ringan hingga parah. Gejala ini akan bertahan selama 1-2 hari, tapi bisa juga hingga 10 hari. Gastroenteritis menyerang bagian usus pada manusia, sehingga gejala yang muncul adalah berikut ini:

Sakit dan kram perut.

Diare berair tapi tidak bercampur darah. Jika diare sudah bercampur darah, infeksi yang terjadi mungkin berbeda dan lebih parah.

1.      Mual dan muntah.
2.      Kehilangan nafsu makan.
3.      Penurunan berat badan.
4.      Terkadang muncul demam, sakit kepala, dan sakit otot.

Berikut ini beberapa gejala pada orang dewasa yang cukup parah dan harus segera mendapatkan penanganan dari dokter.

1.      Muntah darah.
2.      Cairan yang diminum tidak bisa ditahan sehingga muntah tiap kali setelah minum.
3.      Muntah lebih dari 48 jam.
4.      Demam di atas 40 derajat Celcius.
5.      Mengalami gejala dehidrasi seperti kurang buang air kecil dan mulut yang kering.
6.      Buang air besar disertai darah.

Gejala pada bayi dan anak-anak yang harus diwaspadai dan harus secepatnya mendapatkan penanganan dokter adalah:

1.      Terlihat lesu.
2.      Diare disertai darah.
3.      Demam tinggi.
4.      Merasa sangat kesakitan atau tidak nyaman.
5.      Mengalami dehidrasi. Frekuensi buang air kecil dan volume urine menurun drastis, menangis tanpa air mata dan mulut yang kering.

Penyebab Gastroenteritis

Ada berbagai macam virus yang bisa menyebabkan gastroenteritis. Dua jenis virus yang menjadi penyebab paling umum adalah:

1.      Rotavirus.

Virus yang menular melalui mulut ini cenderung menginfeksi bayi dan anak-anak karena anak-anak sering memasukkan jari atau benda terkontaminasi lain ke dalam mulutnya. Orang dewasa yang terinfeksi virus jenis ini mungkin tidak merasakan gejala apa pun, tapi mereka tetap bisa menularkannya pada anak kecil maupun bayi.

2.      Norovirus.

Virus jenis ini bisa menginfeksi siapa saja pada usia berapa pun, baik dewasa maupun anak-anak. Kebanyakan kasus keracunan nakanan yang terjadi di seluruh dunia disebabkan oleh virus ini. Beberapa tempat yang sering terjadi penularan virus ini adalah ruang kelas atau sekolah, asrama sekolah atau kampus, tempat perawatan anak, dan ruang perawatan umum. Makanan dan air yang terkontaminasi menjadi sarana utama dalam penyebaran virus, tapi kontak secara langsung dengan individu yang terinfeksi juga bisa menular kan virus ini.

Berikut ini adalah faktor-faktor yang meningkatkan risiko mengalami gastroenteritis.

1.      Anak kecil.

Anak-anak lebih sering terserang infeksi virus karena belum memiliki sistem kekebalan tubuh yang kuat.

2.      Anak sekolah yang tinggal di asrama.

Di semua tempat di mana banyak orang berkumpul dengan jarak dekat bisa menjadi faktor dalam mempermudah penularan infeksi yang terjadi.

3.      Orang lanjut usia.

Sistem kekebalan pada orang tua akan menurun.

4.      Orang dengan sistem kekebalan tubuh lemah.

Orang dengan kondisi medis tertentu, seperti HIV dan menjalani kemoterapi, lebih berisiko tertular infeksi karena kekebalan tubuh mereka diserang oleh kondisi yang mereka derita.

5.      Tidak mencuci tangan dengan bersih.

Hal ini bisa meningkatkan risiko jika dilakukan oleh orang yang bertugas mengurusi atau memasak makanan.

6.      Mengonsumsi makanan kotor.

Makan kerang-kerangan yang kurang matang atau berasal dari air yang terkontaminasi juga bisa membuat kita terinfeksi. Camilan yang dibeli dari tempat yang kebersihannya tidak terjamin juga meningkatkan risiko terkena infeksi ini.

Diagnosis Gastroenteritis

Untuk memastikan diagnosis gastroenteritis, dokter akan memeriksa gejala yang dialami dan melakukan pemeriksaan fisik. Jika diperlukan, dokter bisa menganjurkan tes feses yang berguna untuk menentukan jenis organisme penyebab gastroenteritis. Selain virus, gastroenteritis juga bisa disebabkan oleh bakteri dan parasit.

Pengobatan Gastroenteritis

Tujuan utama dari pengobatan pada gastroenteritis adalah untuk mencegah terjadinya dehidrasi dengan mengonsumsi banyak air. Anda mungkin perlu dirawat di rumah sakit untuk diberikan cairan melalui infus jika kasus dehidrasi yang dialami cukup parah.

Oralit bisa diberikan untuk membantu rehidrasi. Obat ini mengandung elektrolit dan mineral yang diperlukan oleh tubuh. Oralit bisa dibeli di toko obat atau apotek secara bebas, tapi pastikan mengikuti petunjuk yang tertulis dalam kemasan. Tanyakan kepada dokter atau apoteker untuk mengetahui lebih jelas mengenai aturan pakainya.

Obat-obatan antibiotik tidak akan memiliki pengaruh terhadap virus yang sudah menginfeksi. Jangan memberikan aspirin pada anak-anak atau remaja yang sakit akibat infeksi virus. Berikut ini beberapa langkah yang bisa Anda lakukan sendiri untuk membantu mengatasi gastroenteritis.

1.      Upayakan untuk meminum lebih banyak cairan. Jika kesulitan minum air, gunakan sedotan. Hindari mengonsumsi jus buah-buahan karena minuman ini justru bisa meningkatkan gejala diare yang dialami.

2.      Mengonsumsi makanan dalam jumlah sedikit dan mudah dicerna, seperti pisang, bubur, dan ikan. Hal ini bertujuan memberikan waktu pemulihan bagi perut Anda Berhenti makan jika mual mulai terasa kembali.

3.      Anda mungkin akan merasa kelelahan atau lemah, maka sebaiknya gunakan lebih banyak waktu untuk beristirahat.

4.      Anak-anak dan orang dewasa bisa mengonsumsi minuman berenergi untuk menggantikan elektrolit dalam tubuh. Untuk bayi dan anak-anak disarankan mengonsumsi oralit. Es krim, minuman bersoda, dan permen bisa memperparah diare pada anak-anak.

Berikan cairan pada bayi yang sakit 15-20 menit setelah muntah atau diare, hal ini dilakukan agar perut sang bayi bisa beristirahat sejenak. ASI bisa diberikan pada bayi jika dia masih mengonsumsi ASI. Selain ASI, cairan oralit atau susu formula juga bisa diberikan, jika bayi sudah bisa minum dari botol.

Pencegahan Gastroenteritis

Berikut ini beberapa cara untuk mencegah terjadinya infeksi usus:

1.      Mencuci tangan.

Cucilah tangan hingga bersih dan juga menyeluruh. Anda bisa menggunakan sabun dan juga air hangat lalu menggosok tangan setidaknya 20 detik. Bersihkan hingga menyeluruh, termasuk di sela-sela kuku Anda. Jika tidak ada sabun maupun air, persiapkan tisu dan pembersih tangan khusus yang bisa Anda bawa ke mana-mana.

2.      Selalu memakai peralatan pribadi.

Disarankan untuk memakai peralatan makan dan minum sendiri, seperti gelas, piring, sendok, dan garpu. Hindari memakai alat makan secara bergantian dengan orang lain. Pastikan setiap anggota keluarga memiliki handuk sendiri-sendiri.

3.      Menjaga jarak.

Jika Anda terpaksa melakukan kontak dengan orang yang terinfeksi gastroenteritis, usahakan untuk menjaga jarak dengannya, atau menghindari bersentuhan langsung dengan orang tersebut atau menyentuh barang-barang yang digunakan oleh orang yang terinfeksi.

4.      Membersihkan barang-barang.

Bersihkan barang-barang, tempat, dan juga permukaan yang disentuh oleh orang yang sudah terinfeksi. Benda-benda seperti permukaan meja, keran, gagang pintu, sendok, garpu, dan perlengkapan lain yang digunakan oleh pasien gastroenteritis yang tinggal serumah dengan Anda.

Jika Anda sedang bepergian atau tempat umum, sebaiknya berhati-hati dalam memilih makanan dan minuman yang Anda konsumsi. Berikut ini beberapa hal yang perlu dihindari:

1.      Hindari mengonsumsi makanan mentah, baik sayuran maupun buah-buahan yang sudah dikupas atau disentuh oleh tangan orang lain.

2.      Jangan mengonsumsi daging yang tidak dimasak dengan matang. Pastikan meminta orang yang untuk memasaknya hingga matang.

3.      Belilah air minum dalam kemasan untuk menghindari mengonsumsi air yang terkontaminasi. Termasuk saat Anda menggosok gigi, disarankan tetap menggunakan air kemasan.

4.      Hindari mengonsumsi es batu yang kebersihannya tidak terjamin, bisa jadi air yang digunakan untuk membuat es sudah terkontaminasi oleh virus.