Jumat, 07 Oktober 2016

ATRESIA ANI




Pengertian Atresia Ani

Atresia Ani adalah kelainan kongenital yang dikenal sebagai anus imperforate meliputi anus, rectum atau keduanya (Betz. Ed 3 tahun 2002).
Atresia aniatau anus imperforate adalah tidak terjadinya perforasi membran yang memisahkan bagian entoderm mengakibatkan pembentukan lubang anus yang tidak sempurna. Anus tampak rata atau sedikit cekung ke dalam atau kadang berbentuk anus namun tidak berhubungan langsung dengan rectum. 
 
Atresia Ani merupakan kelainan bawaan (kongenital), tidak adanya lubang atau saluran anus (Donna L. Wong, 520 : 2003).

Atresia berasal dari bahasa Yunani, a artinya tidak ada, trepis artinya nutrisi atau makanan. Dalam istilah kedokteran atresia itu sendiri adalah keadaan tidak adanya atau tertutupnya lubang badan normal atau organ tubular secara kongenital disebut juga clausura. Dengan kata lain tidak adanya lubang di tempat yang seharusnya berlubang atau buntunya saluran atau rongga tubuh, hal ini bisa terjadi karena bawaan sejak lahir atau terjadi kemudian karena proses penyakit yang mengenai saluran itu. Atresia dapat terjadi pada seluruh saluran tubuh, misalnya atresia ani. Atresia ani yaitu tidak berlubangnya dubur. Atresia ani memiliki nama lain yaitu anus imperforata. Jika atresia terjadi maka hampir selalu memerlukan tindakan operasi untuk membuat saluran seperti keadaan normalnya.

Atresia ani adalah salah satu jenis cacat atau kelainan sejak lahir. Pada kondisi ini, perkembangan janin mengalami gangguan sehingga bentuk rektum (bagian akhir usus besar) sampai lubang anus umumnya tidak sempurna.

Atresia ani biasanya mencakup kelainan di area tubuh yang lain, termasuk kelainan yang terjadi pada organ-organ pencernaan, saluran kemih, hingga kelamin. Tingkat anomali yang terjadi pun berbeda-beda dan umumnya dikategorikan sebagai berikut:

·         Kelainan di tingkat bawah. Berupa lubang anus yang menyempit atau sama sekali tertutup akibat usus rektum yang masih menempel pada kulit. Lubang anus yang tertutup umumnya disertai dengan cacat lahir lain, seperti gangguan jantung, masalah pada sistem saraf pusat, atau anomali pada tangan dan kaki.
·         Kelainan di tingkat atas. Posisi usus besar yang terletak di rongga panggul bagian atas dan terbentuknya fistula yang menghubungkan rektum dan kandung kemih, uretra, atau vagina. Fistula adalah terowongan abnormal yang muncul antara dua saluran normal seperti antara pembuluh darah, usus, atau organ tubuh..
·         Lubang posterior atau kloaka yang persisten. Pada kelainan ini, rektum, saluran kemih, dan lubang vagina bertemu pada satu saluran yang sama.

Menurut Ladd dan Gross (1966) anus imperforata dalam 4 golongan, yaitu:

·         Stenosis rektum yang lebih rendah atau pada anus.
·         Membran anus yang menetap.
·         Anus imperforata dan ujung rektum yang buntu terletak pada bermacam-macam jarak dari peritoneum.
·         Lubang anus yang terpisah dengan ujung.

Jenis Atresia Ani

Klasifikasi atresia ani, yaitu :

·         Anal stenosis adalah terjadinya penyempitan daerah anus sehingga feses tidak dapat keluar.
·         Membranosus atresia adalah terdapat membran pada anus.
·         Anal agenesis adalah memiliki anus tetapi ada daging diantara rectum dengan anus.
·         Rectal atresia adalah tidak memiliki rektum.
·         Anus imperforata dan ujung rektum buntu terletak pada berbagai jarak dari peritoneum.
·         Lubang anus yang terpisah dengan ujung rektum yang buntu.

Pasien bisa diklasifikasikan lebih lanjut menjadi 3 sub kelompok anatomi, yaitu :

a.       Anomali rendah / infralevator.

Rektum mempunyai jalur desenden normal melalui otot puborektalis, terdapat sfingter internal dan eksternal yang berkembang baik dengan fungsi normal dan tidak terdapat hubungan dengan saluran genitourinarius.
 
b.      Anomali intermediet.

Rektum berada pada atau di bawah tingkat otot puborectalis, lesung anal dan sfingter eksternal berada pada posisi yang normal.

c.       Anomali tinggi / supralevator.

Ujung rectum di atas otot puborectalis dan sfingter internal tidak ada. Hal ini biasanya berhubungan dengan fistula genitourinarius – retrouretral (pria) atau rectovagina (perempuan). Jarak antara ujung rectum buntu sampai kulit perineum lebih dari 1 cm.

Klasifikasi menurut letaknya :

·         Tinggi (supralevator) : rektum berakhir di atas M. levator ani (M. puborektalis) dengan jarak antara ujung buntu rektum dengan kulit perineum lebih dari 1 cm. Letak upralevator biasanya disertai dengan fistel ke saluran kencing atau saluran genital.
·         Intermediate : rektum terletak pada M. levator ani tetapi tidak menembusnya.
·         Rendah : rektum berakhir di bawah M. levator ani sehingga jarak antara kulit dan ujung rektum paling jauh 1 cm.

Gambaran Klinik Atresia Ani

Pada sebagian besar anomati ini neonatus ditemukan dengan obstruksi usus. Tanda berikut merupakan indikasi beberapa abnormalitas:

·         Tidak adanya apertura anal.
·         Mekonium yang keluar dari suatu orifisium abnormal.
·         Muntah dengan abdomen yang kembung.
·         Kesukaran defekasi, misalnya dikeluarkannya feses mirip seperti stenosis.


Tanda Gejala
Tanda dan gejala dari Atrsia Ani ini antara lain adalah :

·         Mekonium tidak keluar dalam waktu 24 - 48 jam setelah lahir.
·         Tinja keluar dari vagina atau uretra.
·         Perut menggembung.
·         Muntah.
·         Tidak bisa buang air besar.
·         Tidak adanya anus, dengan ada/tidak adanya fistula.
·         Pada atresia ani letak rendah mengakibatkan distensi perut, muntah, gangguan cairan elektrolit dan asam basa.

Faktor Penyebab

Berikut faktor penyebabnya:
·       Terjadi kegagalan pada pertumbuhan bayi saat masih berada dalam kandungan atau berusia 12 minggu hingga 3 bulan.
·       Terjadinya gangguan perkembangan pada embriologik di daerah usus, rektum dibagian distal serta traktus urogenitalis yang biasanya terjadi antara minggu ke empat hingga ke  enam usia kehamilan.
·       Putusnya saluran pencernaan dari atas daerah anus.Hal itulah yang membuat bayi lahir tanpa lubang anus.
·       Bila si kecil mengalami sindrom down.

Etiologi

Atresia ani ini dikarenakan oleh ketidak normalan perkembangan janin dalam rahim selama kehamilan, kelainan ini karena tidak berfungsinya secara penuh saluran anus dan akan menjadi kelainan bawaan. Adaikatakan kelainan bawaan larena kelainan ini terjadi pada bayi yang didapat segera setelah lahir.

Atresia dapat disebabkan oleh beberapa faktor, antara lain:
·       Putusnya saluran pencernaan dari atas dengan daerah dubur sehingga bayi lahir tanpa lubang dubur.
·       Kegagalan pertumbuhan saat bayi dalam kandungan berusia 12 minggu/3 bulan.
·       Adanya gangguan atau berhentinya perkembangan embriologik didaerah usus, rektum bagian distal serta traktus urogenitalis, yang terjadi antara minggu keempat sampai keenam usia kehamilan.

Kegagalan pada fase embrio yang penyebab belum diketahui.

Diagnosa dan Pengobatan Atresia Ani

Atresia ani bisa didiagnosis melalui USG, tetapi umumnya diketahui pada pemeriksaan fisik yang pertama kali dilakukan ketika bayi lahir. Dokter akan memeriksa perut, alat-alat kelamin, lubang anus, dan tulang belakang setiap bayi yang baru lahir. Bila terdapat kelainan pada bagian-bagian ini, dokter kemudian akan memastikan apakah ada jenis cacat lahir lain yang juga dialami oleh sang bayi.

Pemeriksaan dini tersebut sangat dibutuhkan agar penanganan bisa segera dilakukan. Jenis prosedur yang akan dipilih oleh dokter tergantung pada jenis dan tingkat keparahan cacat lahir yang dialami oleh sang bayi. Kondisi kesehatan bayi juga akan menjadi faktor utama yang dipertimbangkan.

Bayi yang tidak memiliki lubang anus akan diberi asupan melalui infus. Jika ada fistula yang terbentuk pada saluran kemih, dokter akan menyarankan penggunaan antibiotik.

Sebagian besar lubang anus yang tertutup membutuhkan operasi secepatnya guna membentuk saluran pembuangan untuk kotoran. Meski demikian, operasi ini memiliki tingkat kesulitan yang tinggi karena posisi organ yang mengalami gangguan terletak jauh dalam panggul. Belum lagi faktor usia bayi yang sangat muda sehingga risiko komplikasi juga meningkat.

Pasca menjalani operasi pembentukan lubang anus, komplikasi yang umumnya terjadi adalah konstipasi atau inkontinensia tinja. Untuk mengatasinya, pola makan pasien anak-anak sebaiknya dijaga dengan seksama. Salah satu caranya adalah dengan mengonsumsi banyak serat, seperti sayur dan buah. Makanan yang mengandung pencahar alami, contohnya produk susu, juga bisa digunakan. Selain cara alami, pasien juga bisa dianjurkan untuk menggunakan obat pencahar atau laksatif serta suplemen yang mengandung serat.

Komplikasi Atresia Ani

Sebagian komplikasi dapat terjadi pada saat operasi. Bila terdapat fistula yang berhubungan dengan saluran pencernaan, tindakan operasi bisa melukai dinding saluran cerna yang normal. Operasi pembuatan lubang pengganti anus (kolostomi) juga mengandung risiko mencemari saluran kemih sehingga risiko infeksi organ-organ kemih meningkat.

Stenosis (penyempitan) pada lubang anus buatan juga dapat terjadi bila kulit pasien mempunyai kecenderungan membentuk keloid (jaringan parut). Kondisi ini mengharuskan perbaikan kembali dengan cara operasi.

DAFTAR FUSTAKA

·         Betz, Cealy L. & Linda A. Sowden. 2002. Buku Saku Keperawatan Pediatrik. Edisike-3. Jakarta : EGC.
·         Carpenito, Lynda Juall. 1997. Buku Saku Diagnosa Keperawatan. Edisi ke-6. Jakarta : EGC.
·         Daengaoes, Maryllin E.1999. Rencana asuhan keperawatan. Jakarta : EGC.
·         Hidayat, A. Alimul. 2008. Pengantar Ilmu Keperawatan Anak. Jakarta : Salemba Medika.
·         Hidayat, A. Alimul. 2011. Pengantar Ilmu Kesehatan Anak Untuk Pendidikan Kebidanan. Jakarta : Salemba Medika.
·         Kristiyanasari, Weni. 2011. Asuhan Keperawatan Neonatus Dan Anak. Yogyakarta : Nuha Medika.
·         Wong, Donna L. 2003. Pedoman Klinis Keperawatan Pediatrik. Sri Kurnianianingsih (ed), Monica Ester (Alih Bahasa). edisi ke-4. Jakarta : EGC.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar