Minggu, 16 Oktober 2016

CHOLANGITIS




Pengertian Cholangitis

Cholangitis adalah infeksi yang terjadi pada saluran empedu (saluran yang dilewati oleh cairan empedu dari hati menuju kandung empedu dan usus). Cairan empedu yang diproduksi oleh hati dibutuhkan tubuh untuk membantu proses pencernaan.

Pada keadaan normal, cairan empedu bersifat steril. Akan tetapi, ketika terjadi penyumbatan pada saluran empedu, maka tumpukan cairan empedu tadi akan berisiko menimbulkan infeksi.

Cholangitis merupakan infeksi bakteri dari sistem duktus bilier, yang bervariasi tingkat keparahannya dari ringan dan dapat sembuh sendiri sampai berat dan dapat mengancam nyawa.

Pertama kali dikemukakan pada tahun 1877 oleh Charcot, ia mempostulatkan bahwa penyakit ini berhubungan dengan proses patologi berupa obstruksi bilier dan infeksi bakteri. Cholangitis merupakan salah satu komplikasi dari batu pada ductus choledochus. Penyakit ini perlu diwaspadai karena insidensi batu empedu di Asia Tenggara cukup tinggi, serta kecenderungan penyakit ini untuk terjadi pada pasien berusia lanjut, yang biasanya memiliki penyakit penyerta yang lain yang dapat memperburuk kondisi dan mempersulit terapi.       

Obstruksi juga dapat terjadi pada bagian manapun dari saluran empedu, yang membawa empedu dari hepar kekandung empedu dan usus. Bakteri yang sering dikultur pada empedu adalah Eschericia Coli, Klebsiella, Pseudomonas, Proteus, Enterococcus, Clostridium perfiringens, Bacteroides fragilis. Bakteri anaerob yang dikultur hanya sekitar 15% kasus.

Patofisiologi kolangitis sekarang ini dimengerti sebagai akibat kombinasi 2 faktor, yaitu cairan empedu yang terinfeksi dan obstruksi biliaris. Peningkatan tekanan intraduktal yang terjadi menyebabkan refluks bakteri ke dalam vena hepatik dan sistem limfatik perihepatik yang menyebabkan bakterimia.

Pada tahun 1959, Reynolds dan Dargon menggambarkan keadaan yang berat pada penyakit ini dengan menambahkan komponen syok sepsis dan gangguan kesadaran.

Gejala Cholangitis

Seseorang yang menderita cholangitis biasanya akan mengalami gejala-gejala berupa:

·         Nyeri pada perut atas bagian tengah atau kanan.
·         Warna tinja cokelat tua (warna tanah liat).
·         Warna urine menjadi gelap.
·         Mual.
·         Muntah.
·         Demam.
·         Badan menggigil.
·         Kulit menguning (penyakit kuning) yang dapat hilang timbul.

Bentuk nyeri akibat cholangitis bervariasi, ada yang terasa tajam, tumpul, atau menyerupai kram. Selain pada perut bagian tengah atau kanan, kadang-kadang nyeri bisa terasa sampai punggung dan bagian bawah tulang belikat kanan.

Cholangitis bisa diderita oleh siapa saja, baik laki-laki atau perempuan. Sebagian besar kasus terjadi pada usia 50-60 tahun. Pada kondisi yang parah, cholangitis berisiko menyebabkan kematian jika diabaikan atau tidak ditangani secara benar. Tingkat kematian akibat cholangitis dilaporkan berkisar antara 13-88 persen. 

Penyebab Cholangitis

Sebagian besar kasus cholangitis disebabkan oleh infeksi bakteri. Saluran empedu yang tersumbat, misalnya diakibatkan oleh batu empedu atau tumor, bisa menyebabkan bakteri berkembang biak di dalamnya dan menyerang saluran empedu.

Selain pada seseorang yang mengalami penyumbatan saluran empedu, risiko terkena cholangitis juga bisa terjadi pada: 

·         Pemilik riwayat batu empedu.
·         Penderita sclerosing cholangitis.
·         Penderita penyempitan saluran empedu.
·         Penderita HIV/AIDS.
·         Seseorang yang mengunjungi wilayah rawan infeksi parasit.

Komplikasi Cholangitis

Infeksi yang terjadi di dalam saluran empedu bisa saja menyebar ke hati dan menyebabkan disfungsi pada organ tersebut. Selain itu, komplikasi lain yang mungkin saja terjadi akibat cholangitis akut adalah:

·         Cedera ginjal akut.
·         Disfungsi ginjal.
·         Disfungsi sistem pernapasan.
·         Disfungsi sistem kardiovaskular.
·         Disfungsi sistem saraf.
·         Disfungsi sistem hematologis.
·         Syok septic.

Diagnosis Cholangitis

Pemeriksaan awal akan dimulai dengan mengidentifikasi gejala yang diderita, riwayat medis pribadi dan keluarga. Kemudian dokter akan melakukan pemeriksaan fisik untuk melihat apakah ada tanda-tanda kelainan seperti: jaundice (muncul warna kekuningan pada kulit dan bagian putih di mata) serta bagian atas perut yang teraba lunak.

Untuk memastikan kecurigaan, dokter biasanya akan merekomendasikan pemeriksaan lanjutan. Beberapa contoh pemeriksaan lanjutan tersebut di antaranya: 

·         MRI scan.
·         CT scan.
·         USG abdomen (perut).
·         Pemeriksaan X-ray yang dipadukan dengan endoskopi atau ERCP (endoscopic retrograde cholangiopancreatography).
·         Pemeriksaan X-ray yang dipadukan dengan penyuntikan cairan pewarna khusus secara langsung ke dalam saluran empedu atau PTC (percutaneous transhepatic cholangiography).

Jika diperlukan, dokter juga kemungkinan akan merekomendasikan tes dan kultur darah guna melihat tanda-tanda infeksi sekaligus mengukur fungsi hati.

Pengobatan Cholangitis

Jika Anda merasakan gejala-gejala cholangitis, segera temui dokter untuk menjalani pemeriksaan. Makin cepat kondisi ini terdiagnosis dan diobati, maka peluang sembuh menjadi makin tinggi. Jangan menganggap remeh gejala cholangitis karena kondisi ini bisa menyebabkan kematian.

Sebagian besar kasus cholangitis ditangani oleh dokter melalui pemberian obat-obatan antibiotik untuk membunuh bakteri penyebab infeksi. Jika cara ini tidak berhasil dilakukan, maka dokter akan merekomendasikan operasi.

Dokter biasanya akan menunggu kondisi pasien stabil terlebih dahulu sebelum melakukan operasi. Namun pada pasien cholangitis yang gejalanya memburuk secara cepat atau pada pasien yang kondisinya sangat buruk, biasanya akan langsung dilakukan prosedur operasi.

DAFTAR PUSTAKA

·         Burkitt G, Quick C, Gatt D. Management of gallstone disease in essensial surgery, second edition, New York ; Churchill Livingstone, 1996, P : 215-220.
·         Brunicardi F, Andersen D, Billiar T, dkk. Cholangitis in Schwartz Principles of Surgery, Eight edition, New York ; McGraw-Hill, 2000, p : 1203-1213.
·         CM Townsend, RD Beauchamp et al., 2004. Sabiston Textbook of Surgery, Biological basis of modern surgical practice, 17th Ed, Elsevier-Saunders.
·         Cameron L, John, Terapi bedah Mutakhir, Edisi 4, Binarupa Aksaram Jakarta, 1997, hal : 476-479.
·         CT Albanese, JT Anderson et al., 2006. Current surgery diagnosis and treatment. Mc Graww Hill Companies.
·         Debas, T. Haile, Gastrointestinal Surgery, Pathophysiology and Management, p : 208-203.
·         De Jong, Wim, Buku Ajar Ilmu Bedah, EGC, Jakarta, 1997 hal : 776-778.
·         FC Brunicardi, DK Andersen et al., 2007. Schwartz Principle’s of Surgery, 8th Ed. Mc Graww Hill Companies.
·         Luhulima, JW, dr, Prof, Abdomen, Anatomi II, Bagian Antomi FKUH,  Makassar, 2001. hal : 28-29.
·         Northon A, Jeffery, Balinger, Randal R, Chang EA, et al, Surgery Basic Science  and Clinical Evidence, Part I, New York, Sprinset Comp, 2000, p : 568-574.
·         Sabiston C, Davidm Textbook of Surgery, WB. Sauders company, 1968, p : 1154 – 1161.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar