Selasa, 11 Oktober 2016

BATUK REJAN



Pengertian Batuk Rejan



Batuk rejan atau pertusis adalah infeksi bakteri pada paru-paru dan saluran pernapasan yang mudah sekali menular. Batuk rejan sempat dianggap penyakit anak-anak saat vaksin pertusis belum ditemukan. Sebenarnya batuk rejan juga dapat diderita orang dewasa, namun penyakit ini dapat mengancam nyawa bila terjadi pada lansia dan anak-anak, khususnya bayi yang belum cukup umur untuk mendapat vaksin pertusis.

Penyakit ini punya ciri rentetan batuk keras terus menerus yang diawali tarikan napas panjang lewat mulut (whoop). Seseorang bisa menderita batuk rejan hingga tiga bulan lamanya, sehingga penyakit ini juga biasa disebut “batuk seratus hari”.

Batuk rejan bisa membuat penderita kekurangan oksigen dalam darahnya. Selain itu dapat terjadi berbagai komplikasi, misalnya pneumonia. Bahkan penderita batuk rejan bisa secara tidak sengaja melukai tulang rusuk mereka karena batuk yang sangat keras.

Batuk rejan dapat menyebar dengan cepat dari orang ke orang. Maka dari itu, vaksin pertusis diperlukan untuk mencegah seseorang terkena batuk rejan. 

Gejala Batuk Rejan

Umumnya, gejala batuk rejan akan muncul antara 7 hari hingga 21 hari usai bakteri Bordetella pertussis masuk dalam saluran pernapasan seseorang. Perkembangan gejala batuk rejan ada tiga tahapan, terutama pada bayi dan anak kecil:

·         Tahap pertama (masa gejala awal).

Munculnya gejala-gejala ringan seperti hidung berair dan tersumbat, bersin-bersin, mata berair, radang tenggorokan, batuk ringan, hingga demam. Tahap ini bisa bertahan hingga dua minggu, dan di tahap inilah penderita berisiko menularkan batuk rejan ke orang sekelilingnya.

·         Tahap kedua(masa paroksimal).

Tahap ini ditandai dengan meredanya semua gejala-gejala flu, namun batuk justru bertambah parah, dan tak terkontrol. Di tahap inilah terjadi batuk keras terus menerus yang diawali tarikan napas panjang lewat mulut (whoop). Usai serangan batuk, penderita bisa mengalami muntah (umumnya pada bayi dan anak-anak) serta tubuh mengalami kelelahan. Tahap ini bisa berlangsung dua hingga empat minggu atau lebih.

·         Tahap ketiga(masa penyembuhan).

Tahap inilah tubuh penderita mulai membaik, namun gejala batuk rejan tetap ada bahkan penderita bisa batuk lebih keras. Tahap pemulihan ini bisa bertahan hingga dua bulan atau lebih tergantung dari pengobatan.

Berikut ini beberapa kondisi yang harus segera menerima penanganan dokter:
·         Bayi berusia 0-6 bulan terlihat sangat tidak sehat.
·         Anda atau anak kesulitan untuk bernapas.
·         Anda atau anak mengalami komplikasi serius, seperti kejang atau pneumonia.
·         Mengeluarkan bunyi saat menarik napas.
·         Muntah akibat batuk rejan yang parah.
·         Tubuh menjadi memerah atau membiru.

Penyebab Batuk Rejan

Bakteri Bordetella pertussis yang menyebar melalui udara adalah penyebab terjadinya serangan batuk rejan pada seseorang. Bakteri ini masuk dan kemudian menyerang dinding dari trakea dan bronkus (percabangan trakea yang menuju ke paru-paru kanan dan kiri).

Pembengkakan saluran udara adalah salah satu cara tubuh bereaksi terhadap infeksi oleh bakteri. Saluran udara yang membengkak bisa membuat penderita harus menarik napas dengan kuat melalui mulut karena kesulitan bernapas. Hasil tarikan napas yang kuat inilah yang memunculkan bunyi dengkingan (whoop) yang panjang.

Cara lain yang akan dilakukan tubuh saat bakteri menginfeksi dinding saluran udara adalah dengan memproduksi lendir kental. Tubuh akan merangsang penderita batuk rejan untuk coba mengeluarkan lendir kental tersebut. 

Diagnosis batuk Rejan

Batuk rejan yang masih pada tahap awal memang cukup sulit untuk didiagnosis, karena penyakit flu atau bronkitis punya gejala-gejala yang hampir serupa. Biasanya dari gejala-gejala batuk pada penderita dan mendengarkan suara batuk yang dihasilkan, dokter sudah bisa mendiagnosis batuk rejan.

Dokter juga bisa menambahkan pemeriksaan lain, yaitu: 

·         Tes darah.

Dokter akan mengidentifikasi adanya peningkatan sel darah putih. Juga untuk menemukan antibodi bakteri Bordetella pertussis dalam darah penderita.

·         Pengambilan contoh lendir dari hidung atau tenggorokan.

Dokter akan meneliti apakah lendir penderita mengandung bakteri Bordetella pertussis.

·         Pencitraan sinar X.

Tujuannya adalah melihat apakah paru-paru penderita mengalami peradangan atau terjadi penumpukan cairan. Kondisi ini bisa muncul ketika batuk rejan mengalami komplikasi dengan pneumonia atau infeksi saluran pernapasan.

Pengobatan Batuk Rejan

Berhati-hatilah jika mengonsumsi obat bebas untuk mengobati batuk rejan. Karena banyak sekali jenis obat batuk di pasaran yang ternyata kurang ampuh mengobati batuk rejan. Bahkan obat tersebut tidak bisa meredakan gejala batuknya.

a.      Mengatasi batuk rejan pada bayi dan anak-anak.

Bayi dan anak-anak yang mengalami batuk rejan akan ditempatkan di ruang isolasi untuk menghindari penyebaran infeksi. Pengobatan utama yang diberikan adalah antibiotik untuk melawan bakteri penyebab infeksi. Kortikosteroid akan diberikan untuk mengatasi peradangan pada saluran napas. Baik antibiotik dan kortikosteroid bisa diberikan melalui infus. Sungkup okasigen dapat diberikan untuk membantu pernapasan.

Bayi dan anak-anak dengan batuk rejan yang cukup parah bisa menyebabkan kerusakan pada paru-paru mereka. Penanganan khusus di rumah sakit akan berkonsentrasi pada pemakaian alat bantu pernapasan (ventilasi) dan pemberian obat-obatan untuk mengendalikan tekanan darah mereka dengan obat-obatan.

Pada keadaan yang lebih parah, dapat dilakukan Oksigenasi  Membran Ekstrakorporeal (ECMO=extracorporeal membrane oxygenation), dimana oksigen akan langsung dialirkan ke tubuh tanpa melewati paru-paru. Prosedur ini akan diberikan jika teknik yang lain tidak berhasil dan paru-paru sudah mengalami kerusakan cukup parah.

b.      Penaganan pada remaja dan dewasa.

Pengobatan batuk rejan pada remaja dan orang dewasa biasanya bisa ditangani sendiri di rumah atau dengan obat antibiotik sesuai resep dokter. Berikut ini beberapa langkah sederhana untuk penanganan mandiri di rumah:

1.      Untuk menyembuhkan gejala demam dan radang tenggorokan, Anda bisa mengonsumsi ibuprofen atau paracetamol.
2.      Untuk menghindari dehidrasi, disarankan untuk minum banyak air.
3.      Keluarkan semua lendir atau muntah saat batuk agar penderita tidak tersedak atau terhirup kembali.
4.      Disarankan untuk banyak beristirahat.

Komplikasi Batuk Rejan

Penderita batuk rejan yang beresiko besar terkena komplikasi adalah bayi dan anak-anak. Komplikasi yang mungkin terjadi pada anak-anak maupun orang dewasa adalah:

·       Napas terputus-putus.
·       Dehidrasi dan penurunan berat badan akibat muntah secara berlebihan.
·       Pneumonia.
·       Tekanan darah rendah.
·       Mengalami kejang-kejang.
·       Kerusakan otak karena kurangnya pasokan oksigen menuju ke otak.
·       Gagal ginjal.

Komplikasi yang terjadi pada bayi di bawah usia enam bulan bisa membahayakan nyawa, dan mereka membutuhkan penanganan medis secepatnya di rumah sakit.

Sedangkan batuk rejan pada dewasa juga memiliki berbagai komplikasi namun umumnya lebih ringan, antara lain: tulang rusuk mengalami memar atau retak, hernia perut, mimisan, infeksi telinga, pecahnya pembuluh darah di kulit atau putih mata, munculnya sariawan pada lidah dan mulut, serta wajah mengalami pembengkakan. 

Pencegah Batuk Rejan

Vaksinasi pertusis adalah cara terbaik untuk mencegah batuk rejan. Biasanya dokter memberikan vaksin pertusis bersamaan dengan vaksin difteri, tetanus, polio (vaksin DPT) dan Hib.
Berikut ini adalah jadwal vaksinasi untuk pertusis: 

·       Pada usia 2 bulan.
·       Pada usia 4 bulan.
·       Pada usia 6 bulan.
·       Pada usia 1,5 sampai 2 tahun.
·       Pada usia 5 tahun.

Vaksin pertusis sangat aman, namun terdapat beberapa efek samping yang muncul setelah vaksinasi, seperti rasa nyeri, kulit memerah, dan pembengkakan pada bagian yang disuntik. Kemungkinan bayi juga akan menjadi mudah marah, demam, dan sering menangis.

Ibu hamil juga perlu mendapatkan vaksinasi pertusis. Mendapatkan vaksinasi pertusis saat hamil membantu melindungi bayi terserang batuk rejan pada minggu-minggu awal usai kelahiran. Vaksinasi pertusis akan ditawarkan pada semua wanita hamil saat usia kehamilan mereka antara 28-38 minggu. Jika ingin mendapatkan vaksinasi pertusis saat hamil, konsultasikan dengan dokter kandungan Anda.

Selain pada ibu hamil dan bayi, vaksinasi pertusis tambahan (booster) perlu diberikan karena fungsi perlindungannya cenderung melemah. 

Vaksinasi tambahan ini bisa diberikan ketika: 

·         Remaja

Kekebalan vaksin pertusis akan melemah mulai saat seseorang berusia 11 tahun. Maka usia tersebut menjadi waktu yang tepat untuk mendapatkan booster vaksinasi pertusis.

·         Dewasa.

Beberapa jenis vaksin tetanus dan difteri yang diberikan secara berkala setiap 10 tahun sekali juga memiliki fungsi untuk melindungi dari batuk rejan. Vaksin jenis ini juga mengurangi risiko Anda untuk menularkan batuk rejan kepada bayi.

Untuk menghindari penularan batuk rejan, penderita sebaiknya beristirahat rumah hingga menyelesaikan dosis antibiotik yang diberikan dokter. Orang-orang yang sering berinteraksi dengan penderita semestinya diberikan tindakan pencegahan agar tidak tertular. Tindakan pencegahan terhadap batuk rejan meliputi antibiotik. Dokter juga dapat memberikan booster vaksin pertusis.

Orang-orang yang rawan tertular batuk rejan adalah: 

·         Ibu hamil saat trimester terakhir kehamilan.
·         Bayi baru lahir.
·         Bayi yang berusia di bawah 1 tahun dan belum mendapatkan vaksinasi komplit DPT.
·         Orang dengan sistem kekebalan tubuh lemah.
·         Orang yang mengidap penyakit kronis seperti asma atau gagal jantung.
·         Anak-anak berusia di bawah 10 tahun yang belum divaksin DPT.

Selain itu, ada pula kelompok yang rawan menularkan, yaitu para pekerja fasilitas kesehatan, perawatan sosial, dan perawatan anak. Orang-orang ini juga perlu diberikan tindakan pencegahan.


DAFTAR PUSTAKA

·         Behram, klieman & Nelson. 2000. ”Ilmu kesehatan anak”. Jakarta : EGC.
·         dr T.H Rampengan,Dsak.1997.”Penyakit Infeksi Tropik Pada Anak Cetakan Ke III”.Jakarta : EGC.
·         Garna, Harry. Pertusis. Azhali M.S, dkk : Ilmu Kesehatan Anak Penyakit Infeksi Tropik. Bandung, Indonesia. FK Unpad, 1993. h: 80-86.
·         Hadinegoro Sri Rejeki.2011.”Panduan Imunisasi Anak Edisi1”. Jakarta : IKD.
·         Mansjoer, Arif. 2000. Kapita selekta Kedokteran jilid 2. Jakarta : Media Aesculapius.
·         Law, Barbara J. Pertussis. Kendig’s : Disorders of Respiratory Tract in Children. Philadelphia, USA. WB Saunders, 1998. 6th edition. Chapter 62. h :1018-1023.
·         Long, Sarah S. Pertussis. Nelson : Textbook of Pediatrics. USA. WB Saunders, 2004. 17th edition. Chapter 180. h: 908-912,1079.
·         Marlyn E. Doenges,dkk.2000.”Rencana Asuhan Keperawatan”. Jakarta : EGC.
·         Shehab, Ziad M. Pertussis. Taussig-Landau : Pediatric Respiratory Medicine. Missouri, USA. Mosby Inc. 1999. Chapter 42. h: 693-699.
·         Staf pengajar Ilmu Kesehatan Anak FKUI. Pertusis. Staf pengajar I.K.Anak FKUI : Buku Kuliah Ilmu Kesehatan Anak. Jakarta, Indonesia. FKUI, 1997. Jilid 2. h: 564-566.
·         Wilson,Hockenberry.” Wong’s, nursing care of infants and children jilid 2”.Canada: Evolve.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar