Selasa, 02 Januari 2018

KISTA BARTHOLIN



Pengertian Kista Bartholin

Kista Bartholin terbentuk ketika terjadi penyumbatan pada saluran kelenjar Bartholin. Kista bisa berukuran kecil dan tidak menimbulkan rasa sakit, namun bisa juga sebaliknya.

Bartholin adalah kelenjar yang terletak pada kedua sisi bibir vagina pada alat kelamin perempuan. Kelenjar Bartholin mengeluarkan cairan yang berperan sebagai pelumas saat berhubungan seksual. Kelenjar ini kecil sehingga tidak mudah terdeteksi oleh tangan maupun mata.

Penyebab Kista Bartholin

Cairan yang dikeluarkan oleh kelenjar Bartholin mengalir melewati saluran langsung menuju vagina. Saluran yang tersumbat akan menampung kelebihan cairan kemudian berkembang menjadi kista. Kista Bartholin dapat makin membesar setelah berhubungan seksual karena penambahan cairan yang diproduksi kelenjar Bartholin saat terjadi hubungan seksual.

Penyumbatan kelenjar Bartholin disebabkan oleh beberapa faktor, seperti infeksi bakteri, iritasi jangka panjang, atau peradangan. Infeksi kista Bartholin dapat disebabkan oleh bakteri penyebab infeksi menular seksual (IMS), yaitu bakteri Neisseria gonorrhoeae yang menyebabkan penyakit gonore atau kencing nanah, dan bakteri Chlamydia trachomatis yang menyebabkan penyakit chlamydia. Bakteri lainnya adalah Escherichia coli atau E.coli yang sering menjadi penyebab diare dan keracunan makanan.

Gejala Kista Bartholin

Berikut ini sejumlah gejala kista Bartholin:

·         Keberadaan kista Bartholin yang tidak terinfeksi berbentuk benjolan tanpa rasa sakit dan teraba lunak. Kista biasanya ditemukan tanpa sengaja pada waktu dilakukan pemeriksaan rutin pada daerah panggul.

·         Bila terjadi infeksi, ukuran kista Bartholin bias membesar dalam kurun waktu beberapa jam atau hari. Infeksi menyebabkan pembengkakan pada kista disertai  dengan munculnya nanah (abses) dan terasa sakit. Hal tersebut menyebabkan penderita kesulitan untuk duduk, berjalan, atau berhubungan seksual.

·         Gejala juga dapat disertai demam.

Diagnosis Kista Bartholin

Pada tahap awal, dokter akan bertanya mengenai riwayat kesehatan pasien. Kemudian, dokter akan melakukan pemeriksaan fisik. Umumnya kista Bartholin hanya terjadi pada satu sisi, sementara sisi lainnya tetap berukuran normal.

Penting untuk melakukan pemeriksaan rutin pada daerah panggul, terutama bila ditemukan benjolan untuk mengetahui diagnosis penyakit. Selain pemeriksaan pada daerah panggul, dokter juga akan mengambil contoh cairan dari vagina untuk mengetahui apakah ada infeksi menular seksual.

Pengambilan sampel jaringan (biopsi) kelenjar Bartholin untuk diperiksa akan direkomendasikan pada pasien pascamenopause atau yang berusia lebih dari 40 tahun untuk mendeteksi sel kanker.

Penanganan Kisata Bartholin

Kista Bartholin ditangani dengan cara yang berbeda-beda. Kista kecil yang tidak terinfeksi dapat dirawat di rumah dan tidak memerlukan prosedur serta obat-obatan spesifik.

Sebaliknya, kista membutuhkan membutuhkan penanganan lebih lanjut bila ukurannya besar, membuat penderita tidak nyaman, atau terjadi infeksi. Penanganan kista Bartholin meliputi obat-obatan, pengeluaran abses, dan pengangkatan kista.

·         Duduk berendam di air hangat.

Duduk berendam di dalam air hangat setinggi panggul dapat menjadi pilihan pada kasus kista terinfeksi yang berukuran kecil. Lakukan beberapa kali sehari selama empat hari hingga kista pecah dan cairan keluar. Handuk hangat juga bisa digunakan untuk mengompres area di mana kista terletak.

·         Obat pereda nyeri.

Paracetamol dan ibuprofen dapat dikonsumsi sebagai pereda rasa sakit. Selalu perhatikan keterangan serta dosis penggunaan saat mengonsumsi obat-obatan bebas. Hubungi dokter atau kunjungi fasilitas kesehatan terdekat jika benjolan bertambah besar dan sakit.

·         Obat antibiotik.

Penggunaan antibiotik berfungsi menghilangkan infeksi penyebab timbulnya abses pada kista yang terinfeksi, juga pada kasus di mana penderita mengalami infeksi menular seksual.

·         Prosedur pemasangan kateter.

Dokter dapat memasang kateter untuk mengeluarkan abses. Pada prosedur ini, sayatan kecil dibuat untuk memasukkan kateter (selang) dengan ujungnya terdapat balon yang dapat mengembang. Balon ini berfungsi untuk menjaga agar kateter tidak lepas dan dapat bertahan selama 2-6 minggu.

·         Marsupialisasi kista.

Suatu prosedur yang mana cairan dikeluarkan dengan cara mengiris kista, lalu menjahit ujung pada kulit sekitarnya agar kista tetap terbuka untuk mencegah terbentuknya kista baru. Prosedur ini dapat dikombinasikan dengan pemasangan kateter.

·         Prosedur pengangkatan kelenjar bartholin.

Prosedur ini dilakukan saat prosedur lain tidak berhasil. Operasi pengangkatan ini membutuhkan bius umum sebelum dilakukan pengangkatan kelenjar Bartholin.

Sebaiknya hindari aktivitas seksual selama proses penyembuhan atau sesuai dengan anjuran dokter. Gunakan pembalut selama kateter masih terpasang, karena nanah akan terus mengalir seiring dengan hilangnya infeksi.

Komplikasi Kisata Bartholin

Komplikasi yang mungkin terjadi adalah timbulnya kista atau infeksi berulang serta infeksi yang menyebar ke darah dan seluruh tubuh (sepsis). 

Pencegahan Kisata Bartholin

Kista Bartholin bisa dicegah dengan memulai kebiasaan menjaga kebersihan area sekitar alat kelamin dengan baik. Juga dengan penggunaan kondom saat berhubungan seksual untuk menghindari infeksi menular seksual dan kista Bartholin terinfeksi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar