Rabu, 10 Januari 2018

NEUROPATI PERIFER



Pengertian Neuropati Perifer

Neuropati perifer adalah kelompok kerusakan pada sistem saraf tepi yang terletak di luar sistem saraf pusat. Dengan kata lain, kerusakan saraf terjadi di luar saraf tulang belakang dan otak.

Kondisi ini biasanya dialami oleh seseorang yang sudah lanjut usia (lansia). Diperkirakan sekitar 10 persen orang yang berusia 55 tahun ke atas mengalami neuropati perifer.

Gejala neuropati perifer bervariasi, tergantung kepada saraf apa yang terganggu.

·         Jika seseorang mengalami neuropati motorik atau gangguan pada saraf yang mengatur gerakan tubuh, maka salah satu atau beberapa gejala yang bisa terjadi adalah kedutan, kram, lemah, atau bahkan lumpuh pada salah satu otot atau lebih. Sering kali kaki bagian depan seseorang yang mengalami neuropati motorik sulit untuk diangkat, sehingga harus diseret ketika berjalan. Selain itu, gejala lain dari neuropati motorik adalah penipisan otot.

·         Jika seseorang mengalami neuropati sensorik atau gangguan pada saraf yang membantu tubuh merasakan nyeri, suhu, dan sentuhan, maka salah satu atau beberapa gejala yang bisa terjadi adalah kesemutan, alodinia (mudah merasakan sakit meski hanya tersentuh sedikit), nyeri yang terasa menusuk atau panas, kesemutan, atau hilang keseimbangan.

·         Jika seseorang mengalami neuropati otonom atau gangguan pada saraf yang mengatur kinerja di luar kesadaran (misalnya detak jantung dan pencernaan), maka salah satu atau beberapa gejala yang bisa dirasakan adalah:

a.       Detak jantung meningkat.

b.      Disfagia atau sulit menelan.

c.       Perut kembung.

d.      Sering bersendawa.

e.      Mual.

f.        Konstipasi.

g.       Diare.

h.      BAB yang sulit dikontrol (inkontinensia ani).

i.         Beser atau sering buang air kecil.

j.        Tubuh jarang berkeringat atau sebaliknya (terus-menerus berkeringat).

k.       Gangguan fungsi seksual.

l.         Hipotensi ortostatik (penurunan darah yang terjadi secara tiba-tiba ketika seseorang berdiri dari duduk sehingga menyebabkan pusing dan lemas).

Penyebab Neuropati Perifer

Berikut ini beberapa faktor yang bisa menyebabkan terjadinya neuropati perifer, di antaranya:

·         Penyakit diabetes.

·         Infeksi bakteri dan virus (misalnya HIV, cacar, difteri, kusta, dan hepatitis C).

·         Penyakit hati kronik.

·         Penyakit ginjal kronik.

·         Penyakit autoimun (misalnya sindrom Guillain-BarrĂ©, lupus, sindrom Sjogren, dan rheumatoid arthritis).

·         Gangguan saraf motorik dan sensorik yang diturunkan (misalnya penyakit Charcot-Marie-Tooth).

·         Hipotiroidisme.

·         Peradangan pembuluh darah (vaskulitis).

·         Penyakit amiloidosis (penumpukan protein amiloid di dalam organ atau jaringan tubuh).

·         Tekanan atau kerusakan pada saraf (misalnya akibat cedera berat atau efek samping operasi).

·         Kanker sumsum tulang.

·         Kanker kelenjar getah bening.

·         Defisiensi vitamin B1, B6, B12, dan vitamin E.

·         Paparan racun (misalnya merkuri dan arsenik).

·         Konsumsi minuman beralkohol secara berlebihan.

·         Efek samping penggunaan jangka panjang antibiotik nitrofurantoin dan metronidazole.

·         Efek samping obat thalidomide dan amiodarone.

·         Efek samping penggunaan jangka panjang phenytoin (obat antiepilepsi).

·         Efek samping obat-obatan kemoterapi.

Diagnosis Neuropati Perifer

Temui dokter jika kulit Anda terasa seperti tertusuk-tusuk dan panas, kesemutan dan mati rasa pada daerah kaki, atau otot terasa lemas yang disertai kram. Selain menanyakan seputar gejala yang Anda rasakan, dokter juga akan menanyakan riwayat penyakit Anda dan keluarga serta menanyakan obat-obatan yang Anda konsumsi. Kemudian, dokter akan memeriksa bagian-bagian tubuh yang terkait dengan gejala Anda, termasuk diantaranya memeriksa kemampuan Anda merasakan sensasi, uji kekuatan otot, serta memeriksa koordinasi dan postur tubuh.

Tes darah dapat dilakukan guna mengidentifikasi ada tidaknya penyakit diabetes. Gangguan fungsi imun dan defisiensi vitamin tertentu juga dapat dideteksi melalui tes darah. Jika gangguan pada fungsi saraf diyakini berkaitan dengan efek samping obat-obatan, maka dokter juga kemungkinan akan melakukan pemeriksaan sampel darah dan urine untuk memastikannya.

Dokter dapat melakukan tes kecepatan konduksi saraf dan elektromiogram (EMG) untuk melihat adanya ketidaknormalan pada saraf dan menentukan struktur saraf mana yang mengalami kerusakan.
Pencitraan CT scan dan MRI dapat dilakukan untuk mengidentifikasi adanya herniasi pada bantalan tulang belakang ataupun melihat adanya tumor.

Pemeriksaan lain yang mungkin dilakukan adalah biopsi otot dan saraf. Contoh lainnya, pengambilan sampel cairan tulang belakang (pungsi lumbal atau spinal tap) apabila inflamasi atau infeksi diyakini sebagai penyebab neuropati perifer.

Pengobatan Neuropati Perifer

Penanganan neuropati perifer berfokus untuk menangani penyebab yang mendasari serta meredakan gejala yang diderita, antara lain:

·         Menjaga pola makan yang sehat, menjaga berat badan ideal, berolahraga secara teratur, menggunakan insulin sesuai dosis yang dianjurkan jika neuropati perifer disebabkan oleh diabetes.

·         Pemberian suntikan immunoglobulin untuk meningkatkan antibodi tubuh.

·         Pemberian obat immunosuppressant untuk mengurangi aktivitas sistem kekebalan tubuh apabila neuropati perifer disebabkan oleh penyakit autoimun.

·         Pemberian obat kortikosteroid jika neuropati perifer disebabkan oleh inflamasi.

·         Operasi apabila neuropati perifer disebabkan oleh saraf yang tertekan.

·         Mencari alternatif lain dari obat-obat yang sedang dikonsumsi jika penyebab neuropati perifer adalah obat tersebut.

·         Mengonsumsi makanan dan suplemen vitamin B1, B6, B12, atau vitamin E apabila neuropati perifer disebabkan oleh defisiensi zat-zat tersebut.

·         Menghentikan konsumsi minuman beralkohol atau menjauhkan diri dari paparan toksin apabila neuropati perifer disebabkan oleh zat tersebut.

Pada kasus neuropati perifer yang menimbulkan gejala nyeri yang mengganggu saraf, biasanya dokter akan meresepkan obat-obatan pereda rasa sakit seperti:

·         Paracetamol dan Obat Antiinflamasi Non Steroid (misalnya ibuprofen).

·         Gabapentin.

·         Amitriptyline.

·         Pregabalin.

·         Duloxetine.

·         Koyo dengan kandungan lidocaine.

·         Salep dengan kandungan capsaicin.

·         Tramadol.

Obat-obatan pereda rasa sakit tersebut akan diberikan oleh dokter sesuai dengan tingkat keparahan atau letak nyeri. Sebagai contoh, jika nyeri masih tergolong tingkat ringan, maka paracetamol dan ibuprofen menjadi pilihan utama. Namun sebaliknya, dokter akan meresepkan tramadol jika nyeri sudah tergolong tingkat parah dan tidak bisa diatasi oleh obat lain. Umumnya pasien akan memerlukan obat antinyeri yang lebih kuat daripada paracetamol dan ibuprofen.

Untuk mengatasi nyeri ringan yang hanya dirasakan pada bagian-bagian tertentu saja, maka penggunaan koyo lidocaine atau salep capsaicin bisa disarankan.

Pada kasus neuropati perifer yang telah membuat penderita menjadi sulit bergerak akibat gejala lemas atau lumpuh otot, maka dokter akan menyarankan penggunaan tongkat atau kursi roda, disamping melakukan terapi fisik.

Komplikasi Neuropati Perifer

Terutama pada kasus neuropati sensorik, gejala mati rasa bisa mengakibatkan penderita tidak menyadari ketika kulitnya terluka atau terbakar. Jika luka tersebut dibiarkan (terlebih lagi jika penderita memiliki penyakit diabetes yang membuat penyembuhan luka menjadi melambat), maka bisa berkembang menjadi infeksi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar